• -
  • -

dikutip dari artikel siswa MTs Al Kautsar Adila Balqis (ig@adilabalqisr) yang bersumber dari wikipedia dengan alamat situs https://www.goresanku.com/2021/04/perjalanan-sejarah-masjid-cordoba/

Sultan ke-7 Kesultanan Utsmaniyah yang dikenal luas dengan nama Muhammad Al – Fatih, Sultan Mehmed II mendapatkan julukan Al-Fatih yaitu ‘Sang Penakluk’. Diketahui fakta tentang Sultan Mehmed adalah ia dikenal sebagai pemimpin yang cakap dan mempunyai kepakaran dalam bidang kemiliteran, ilmu pengetahuan, matematika, dan menguasai enam bahasa saat berumur 21 tahun. Dia dikenal sebagai pahlawan di Turki maupun dunia Islam secara luas.

Dalam sejarah Islam, Mehmed dikenal sebagai salah seorang pemimpin yang hebat sebagaimana Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib), dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di ‘Ain Al-Jalut melawan tentara Mongol).

Di pemerintahan, Mehmed lebih memilih para pejabat tinggi dari latar belakang devşirme daripada mereka yang berasal dari keluarga bangsawan, menjadikan kendali negara benar-benar terpusat pada sultan.

Mehmed lahir pada 30 Maret 1432 di Edirne, ibu kota Utsmaniyah kala itu. Dia merupakan anak dari Sultan Murad II dan Hüma Hatun.

Saat Mehmed berusia sebelas tahun, dia dikirim untuk memerintah Amasya, sesuai tradisi Utsmani untuk mengutus para şehzade (pangeran) yang sudah cukup umur untuk memerintah di suatu wilayah sebagai bekal bila naik takhta kelak. Murad juga mengirimkan banyak guru untuk mendidik putranya, di antaranya adalah Molla Gürani. Syaikh Muhammad Syamsuddin bin Hamzah, salah satu ulama berpengaruh kala itu, juga menjadi guru dan orang dekatnya, membuatnya sangat mempengaruhi Mehmed sejak usia muda, utamanya dalam masalah pentingnya penaklukan Konstantinopel.

Pada periode pertama masa kekuasaan Mehmed, pihak Utsmani diserang Kerajaan Hongaria yang dipimpin János Hunyadi yang melanggar gencatan senjata yang tertuang dalam Perjanjian Szeged (1444). Dalam keadaan seperti ini, Mehmed meminta ayahnya untuk kembali naik takhta, tetapi Murad menolak. Sebagai balasan, Mehmed menulis surat, “Bila Ayah adalah sultan, datanglah dan pimpinlah pasukan Ayah. Bila aku adalah sultan, aku memerintahkan Ayah untuk datang dan memimpin pasukanku.” Murad kemudian datang dan memimpin pasukan, mengalahkan pasukan gabungan Hongaria-Polandia dan Wallachia yang dipimpin oleh Władysław III, Raja Hongaria dan Polandia; János Hunyadi, komandan pasukan gabungan Kristen; dan Mircea II, Voivode (Adipati/Pangeran) Wallachia dalam Pertempuran Varna (1444).

Murad kemudian didesak untuk kembali naik takhta oleh Çandarlı Halil Pasya yang tidak senang dengan kuatnya pengaruh Syaikh Syamsuddin pada masa kekuasaan Mehmed. Murad kembali naik takhta dan berkuasa hingga wafatnya pada tahun 1451. Sepeninggalnya, Mehmed kembali naik takhta dan dinobatkan di Edirne pada usia sembilan belas tahun.

Sebelum Penaklukan.

Konstantinopel, kota yang didirikan Kaisar Romawi Konstantinus Agung pada 330 M, merupakan salah satu kota termasyur di dunia kala itu. Di dunia Kristen, kota ini menjadi yang terdepan dalam segi kebudayaan dan kesejahteraan, utamanya pada masa Wangsa Komnenos. Sebelas abad berikutnya, berbagai upaya penaklukan kota ini dilakukan oleh banyak pihak. Para pemimpin Muslim dari generasi ke generasi, diawali Mu’awiyah bin Abi Sufyan, juga termasuk mereka yang berusaha menaklukan Konstantinopel, meskipun semua upaya itu gagal.

Meski begitu, sebelum tahun 1453, hanya satu kali kota ini berhasil diduduki, yakni pada masa Perang Salib Keempat. Pasukan Salib menduduki Konstantinopel dan mendirikan Kekaisaran Latin (Romawi Timur Katolik) pada 1204. Pasukan Salib menghancurkan berbagai hal di kota yang sebelumnya menjadi pusat agama Ortodoks ini. Hagia Sophia menjadi tempat mabuk-mabukan, berbagai bangunan sekuler dan keagamaan (gereja dan biara) tidak luput dari pengrusakan, para biarawati diperkosa di biara mereka, dan orang-orang yang sekarat terbaring sampai mati di jalan-jalan. Para bangsawan Romawi Timur Ortodoks kemudian mendirikan pemerintahan darurat di tiga tempat, Nicea, Trebizond, dan Epirus.

Penaklukan oleh Utsmani.

Saat Mehmed kembali naik takhta pada 1451, dia memusatkan perhatiannya untuk memperkuat angkatan laut Utsmani untuk persiapan penaklukan Konstantinopel. Di tepi Selat Bosporus bagian Asia, telah berdiri benteng Anadolu Hisarı yang dibangun oleh Sultan Bayezid I. Mehmed menindaklanjuti dengan membangun benteng Rumeli Hisarı yang lebih kokoh di tepi Eropa Bosporus. Pembangunan ini menjadikan Utsmani memiliki kendali penuh atas Selat Bosporus. Setelah pembangunan benteng, Mehmed memerintah pemungutan pajak atas setiap kapal yang melewati selat. Pihak Venesia mengabaikan peraturan tersebut dan kapal mereka tenggelam dengan satu tembakan meriam. Semua pelaut yang selamat dihukum penggal, kecuali kapten kapal yang jasadnya dipajang sebagai peringatan bagi mereka yang melewati selat.

Pada tahun 1453, Mehmed memulai pengepungan Konstantinopel dengan pasukan berjumlah antara 80.000 sampai 200.000 orang, kereta api artileri, dan 320 kapal. Kota ini dikelilingi oleh laut dan darat, armada ditempatkan di pintu Bosporus dari pantai ke pantai dalam bentuk bulan sabit untuk menghadang bantuan untuk Konstantinopel dari laut. Pada awal April, upaya penaklukan Konstantinopel dimulai. Pada awalnya, tembok kota dapat menahan pasukan Utsmani, meskipun Sultan Mehmed telah menggunakan meriam yang dibuat oleh Orban, insinyur dari Transilvania. Pelabuhan Tanduk Emas dilindungi menggunakan rantai penghadang dan dijaga dua puluh delapan kapal.

Dalam pengepungan ini, pihak Romawi Timur meminta bantuan dari Barat, tetapi Paus memberikan persyaratan agar Gereja Ortodoks Timur bersedia bergabung di dalam kewenangan kepausan di Roma. Pihak kekaisaran sendiri sebenarnya telah mengeluarkan maklumat penyatuan gereja, tetapi warga dan pemuka agama Ortodoks mengabaikannya karena kebencian mereka pada kewenangan Roma dan ritus liturgi Latin dalam Katolik, juga lantaran perbuatan umat Katolik pada masa pendudukan mereka atas Konstantinopel saat Perang Salib Keempat. Beberapa pasukan Barat datang memberikan bantuan, tapi sebagian besar penguasa di Barat sibuk dengan urusan masing-masing dan mengabaikan nasib Konstantinopel.

Pada 22 April, Mehmed mengirimkan kapal perangnya yang lebih ringan ke darat, di sekitar koloni Genova di Galata, dan ke pantai utara Tanduk Emas. Delapan puluh kapal diangkat dari Bosporus setelah membuka rute, kurang lebih satu mil, dengan kayu. Dengan keadaan demikian, pihak Romawi menempatkan pasukan mereka di atas dinding yang lebih panjang. Sekitar sebulan kemudian, Konstantinopel akhirnya berhasil ditaklukan pihak Utsmani setelah 57 hari pengepungan. Setelah penaklukan ini, Mehmed memindahkan ibu kota Utsmani dari Edirne ke Konstantinopel. Dua keponakan dan pewaris Kaisar Konstantinus XI Palaiologos lantas menjadi pelayan dekat Mehmed dan kemudian masuk Islam dan diberi nama baru, Hass Murad dan Mesih. Hass Murad diangkat sebagai Gubernur Balkan, sementara Mesih menjadi Gubernur Gallipoli dan kemudian wazir agung pada masa kekuasaan putra Mehmed, Bayezid II.

Kaisar Konstantinus XI sendiri meninggal pada hari penaklukan Konstantinopel, tetapi tidak ada saksi mata yang selamat yang melihat kematiannya. Kisah masyhur yang beredar menyatakan bahwa Konstantinus menanggalkan jubah kebesarannya dan berperang bersama prajurit yang tersisa sampai meninggal dalam pertempuran.

Setelah penaklukan Konstantinopel, Mehmed menghukum mati Çandarlı Halil Pasya pada 1 Juni 1453. Setelah peristiwa ini, keluarga Çandarlı kehilangan pengaruh yang mereka dapatkan sebelumnya, meski anggota keluarga ini ada yang diangkat menjadi wazir agung pada masa kekuasaan Bayezid II. Halil Pasya merupakan wazir agung pertama yang dihukum mati oleh sultan.

Makam Abu Ayyub.

Saat pasukan Utsmani bergerak menuju Konstantinopel, Syaikh Syamsuddin menemukan makam Abu Ayyub al-Anshari, sahabat Nabi yang meninggal dalam Pengepungan Konstantinopel (674–678). Setelah Konstantinopel ditaklukan, Mehmed membangun Masjid Eyüp Sultan (Eyüp Sultan Camii) di tempat tersebut untuk menandai pentingnya penaklukan Konstantinopel dalam Islam dan pentingnya peran Mehmed sebagai ghazi.

Setelah Penaklukan.

Setelah mengambil alih kepemimpinan Konstantinopel, Mehmed mengubah Hagia Sophia (dieja Aya Sofya dalam bahasa Turki) yang semula adalah Basilika Ortodoks menjadi masjid. Mehmed juga segera memerintahkan pembangunan ulang kota, termasuk memperbaiki dinding, membangun benteng, juga membangun istana baru. Untuk mendorong kembali orang-orang Yunani dan Genova yang pergi dari Galata, Mehmed memerintahkan pengembalian rumah-rumah mereka dan memberikan jaminan keamanan.

Mehmed juga memerintahkan pendirian bangunan Muslim dan komersial, seperti Masjid Rum Mehmed Pasya. Dari sini, kota berkembang dengan cepat. Pada akhir masa kekuasaannya, Konstantinopel berubah menjadi ibu kota kekaisaran yang megah. Menurut sejarawan Utsmani kontemporer, Mevlânâ Mehmed Neşri, “Sultan Mehmed membuat keseluruhan Istanbul.” Lima puluh tahun mendatang, Konstantinopel kembali menjadi kota terbesar di Eropa.

Perjalanan Sejarah Masjid Cordoba
  • Sabtu 10, April 2021
  • -

dikutip dari artikel siswa MTs Al Kautsar Amirah Hisanah Rosyanna Putri Nugroho (A. Syanna Putri N.) yang bersumber dari wikipedia dengan alamat situs https://www.goresanku.com/2021/04/perjalanan-sejarah-masjid-cordoba/

GORESANKU | Kali ini kita akan mengulas fakta dan sejarah panjang dari Masjid Cordoba di Spanyol. Sudah pada tahu belum?

Yuuuuk langsung aja pertama-tama kita intip fakta menarik tentang Masjid Cordoba, Spanyol…
Masjid Cordoba atau bisa disebut Mezquita adalah sebuah katedral yang sesuai dengan namanya berlokasi di Cordoba, Spanyol. Dahulu, bangunan ini merupakan sebuah masji ketika pemerintahan Islam berkuasa di Spanyol. Cordoba merupakan sebuah ibukota Spanyol di bawah kekhalifahan Dinasti Umayyah. Kemudian, setelah Reconquista yang berarti Penaklukkan Kembali Spanyol oleh kaum Kristiani bangunan ini dialihfungsikan menjadi sebuah gereja dengan gaya arsitektur Moor dan katedral gotik yang berada di tengah gedung. Saat ini, bangunan ini digunakan sebagai gedung katedral diosese Cordoba, Spanyol.

Sekarang, kita simak yuukk bagaimana sejarah panjang dari Masjid Cordoba.
Pada tanggal 15 Desember 1994, Masjid Cordoba ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu bangunan monumental bersejarah dan terpenting di dunia. Masjid ini berbentuk persegi panjang dan dikelilingi oleh lapangan terbuka, mengikuti model masjid-masjid peninggalan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah yang
terletak di Suriah dan Irak. Kemudian, ruangan dalam masjid ini digunakan
untuk shalat.

Awalnya, masjid ini adalah tempat lokasi gereja Katolik yang dibangun oleh bangsa Visigoth, Romawi. Setelah pasukan Muslim berhasil menguasai Andalusia, tempat tersebut dibagi menjadi dua wilayah, yakni satu untuk kaum Muslim dan satu lagi untuk umat Kristiani. Pembagian wilayah ini terus berlanjut hingga pada masa
kekhalifahan Abdurrahman I berhasil menguasai wilayah Kristen, bangunan tersebut dirobohkan dan diganti dengan Masjid Cordoba.

Kemudian masjid ini dibangun pada 787 M dan pembangunannya terus dilakukan oleh khalifah-khalifah berikutnya. Ketika pemerintahan Bani Umayyah berkuasa, Cordoba dijadikan sebagai ibukota Spanyol di bawah kekuasaan Islam dan terkenal dipenjuru Eropa. Selain sebagai ibukota terkenal, ketika itu Cordoba pun juga dikenal sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan. Bahkan, perpustakaannya dapat mencapai 400.000 pengunjung.

Semoga kalian yang membaca artikel ini bisa mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Spanyol yaa……

  • Sabtu 10, April 2021
  • -

Karya Amirah Hisanah Rosyanna Putri Nugroho

 ig@amirahhisanah

Hai teman-teman, sudah lama sekali aku tidak berbagi cerita kepada kalian. Kali ini, aku akan melanjutkan akhir kisahku yang pernah kuceritakan sebelumnya. Tapi, menurut kalian, apakah ceritaku ini berakhir happy ending atau malah sebaliknya? Untuk menjawab rasa ingin tahu kalian, yuk, simak ceritaku ini!

Waktu itu, ketika aku telah sadar dari masa kritis, perlahan kondisi kesehatanku mulai membaik. Mami dan Papi pun mulai banyak waktu untukku. Walau terkadang, Mami dan Papi masih disibukkan dengan pekerjaan mereka. Tapi aku senang. Karena akhirnya aku punya waktu bersama.

Syela, sahabatku sering menemaniku di rumah sakit bersama dengan Bi Darmi.Jika kedua orang tuaku sedang bekerja.

Pagi itu, udara sejuk nan menyegarkan menyelimuti halaman belakang rumah sakit yang luas. Di sana, aku sedang duduk di taman bersama Syela dan Bi Darmi sambil bercerita. Kami bertiga tertawa ketika mendengar cerita lucu Syela. “Dulu, waktu ulang tahunku yang ketiga, Ayah dan Bunda mengadakan pesta untukku. Bunda membelikan blackforest untuk kue ulang tahunku. Terus, waktu pestanya dimulai, tiba-tiba aku tersandung. Hap! akhirnya, aku terjatuh tepat di atas kue ulang tahunku. Dan satu hal yang paling memalukan dan masih aku ingat, waktu aku ditertawakan para tamu undangan,” cerita Syela sambil tertawa saat mengingat kejadian itu. Aku dan Bi Darmi ikut tertawa mendengar ceritanya.

Setelah kami menghirup udara pagi sejenak, aku mengajak Syela dan Bi Darmi kembali ke kamar rawat. “Bi Darmi, Syela, kita kembali ke kamar rawat yuk,” ajakku. “Ayuk,” sambut Syela. Kami bertiga berjalan bersama kembali ke kamar rawat.

Sampai di kamar rawat, aku izin kepada Bi Darmi untuk ke kamar kecil. Ketika di kamar kecil, tiba-tiba aku terpeleset karena lantai kamar mandi yang licin. Aku pun langsung tak sadarkan diri. Bi Darmi yang melihatku tergeletak di kamar mandi langsung terlihat panik. Ia juga melihat banyak darah yang mengalir di kepalaku akibat terbentur lantai yang sangat keras. Bi Darmi bergegas memanggil dokter dan menelepon kedua orang tuaku.

Sementara aku mendapat penanganan dokter, Bi Darmi terus berdoa dalam hati, berharap kondisiku baik-baik saja. Terlihat jelas di wajah Syela yang tampak sangat khawatir dan cemas dengan keadaanku.

Tak lama, kedua orang tuaku datang. “Bi, gimana kondisinya Keyla?” tanya Mami. “Non Keyla masih diperiksa BU, sama dokter,” jawab Bi Darmi dengan wajah lesu.

Setelah memeriksaku, dokter berbicara pada dua orang tuaku. “Jadi, benturan di kepala Keyla ini cukup keras sehingga dia banyak kehilangan darah di kepalanya. Kita membutuhkan donor darah AB sebanyak satu kantong untuk Keyla. Apakah Bapak dan Ibu ada yang memiliki golongan darah sama seperti Keyla?” tanya dokter. “Saya dok,” jawab Mami. “Oke, nanti kita bisa langsung melakukan donor darahnya ya Pak, Bu,” kata dokter. “Baik Dok, terima kasih,” ucap Papi.

Usai berbincang dengan dokter, Mami segera melakukan donor darah. Setelah itu, Mami dan Papi pergi ke mushalla rumah sakit.

Selesai shalat, Mami dan Papi berdoa di tempatnya shalat masing-masing. “Ya Allah, Ya Tuhanku, ampunilah segala dosa-dosa dan kesalahan hamba Ya Allah, karena hamba masih belum bisa memimpin rumah tangga hamba dengan

baik. Ampunilah hamba, karena hamba belum bisa memberikan pendidikan yang baik untuk anak hamba. Hamba memohon kepadamu Ya Allah, bimbinglah hamba agar selalu tetap berada di jalanMu Ya Allah. Hamba serahkan segala urusan hamba hanya KepadaMu. Hamba mohon berikanlah yang terbaik untuk kesembuhan anak Hamba. Hamba ikhlas menerima semua keputusanMu Ya Allah. Karena hamba yakin Engkaulah sebaik-baik Yang Maha Pemberi Keputusan. Aamiiin.” Begitu doa Mami dan Papi.

Setelah berdoa, Mami dan Papi ke tempat dimana aku terbaring. Dan, betapa senangnya mereka saat tahu bahwa aku telah siuman.  Mereka sangat bersyukur karena  Allah menjawab doa-doa mereka

Dari situlah aku mendapat sebuah pelajaran bahwa tidak ada sesuatu yang tidak bisa kita raih dengan doa. Selagi kita mau berdoa, Allah pasti akan memberikan jalan keluar di waktu yang telah ditentukan. (Tamat)

  • -
  • -

karya Amirah Hisanah Rosyanna Putri Nugroho

ig@amirahhisanah

       Akan ku tulis kembali kisahku di dalam sebuah cerpen ini. Cerita yang ku alami di waktu itu, masih belum terselesaikan. Dan, di dalam cerita ini, akan ku tulis peristiwa-peristiwa yang kualami hingga aku masuk ke rumah sakit kembali.

Pagi yang indah berseri, di ruang makan, aku, Mami, dan Papi, sarapan bersama di meja makan. Sejujurnya, aku sangat senang. Karena untuk pertama kalinya aku sarapan bersama kedua orang tuaku. Di sudut ruang makan, Bi Darmi menyunggingkan segaris senyum, melihat betapa bahagianya aku di pagi itu.

Saat sarapan berlangsung, aku berniat mengajak Mami dan Papi untuk joggging bersama. Akan tetapi, Mami dan Papi masih saja sibuk dengan pekerjaannya. “Mi, Pi, kita…. .” Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, tiba-tiba terdengar suara derit telepon di ponsel milik Papi. “Sebentar ya, sayang,” kata Papi. Papi lalu berbicara di telepon dengan seseorang.

Aku pun menunggu Papi dengan sabar. Namun, setelah Papi menutup teleponnya, Papi memberitahu kepada Mami bahwa mereka harus cepat berangkat ke toko. Keyla merasa sedih. Bukankah waktu itu Mami pernah bilang bahwa mereka akan selalu ada untukku? Tapi kenapa sekarang terjadi lagi seperti sebelumnya? Keyla sangat kecewa.

Setelah pamit dan mencium keningku, Mami berpesan agar aku meminum obat. Setelah itu, Mami dan Papi bergegas berangkat ke toko dengan menggunakan mobil. Tinggallah aku sendiri di meja makan besar itu. Aku memasang wajah sedih. Bi Darmi lalu datang untuk menenangkanku.

Selesai sarapan, aku beranjak ke kamarku yang sangat sederhana. Kamarku yang bernuansa merah muda itu terlihat seperti perpustakaan. Banyak buku yang diatur sangat rapi di sebuah rak besar. Selain itu, kamarnys sangat bersih. Setelah menyalakan AC, aku mengambil ponsel milikku di atas laci meja. Aku lalu melakukan panggilan di telepon kepada Syela, sahabatku. Setelah diangkat, aku langsung bercerita kejadian yang kualami pagi tadi. Dengan sabar, Syela mendengarkan. Sebagai sahabat yang baik, Syela akan selalu ada untuk Keyla. Baik itu dalam keadaan susah maupun sedih. Syela siap menjadi pendengar yang baik jika Keyla ingin curhat dengannya.

 

Lama sekali kami berdua mengobrol di telepon. Hingga di tengah perbincangan, Syela memberitahukan kepadaku bahwa malam ini, sehabis shalat Maghrib nanti, diadakan pengajian untuk anak-anak di Masjid komplek . Syela mengajakku untuk ikut. Aku pun sangat menyeetujuinya.

Malamnya, Syela menjemputku di rumah. Bi Darmi berpesan agar aku berhati-hati ketika di jalan. Takut penyakitku akan kambuh. Aku mengangguk dan menuruti pesan Bi Darmi.

Sampai di Masjid, seorang ustadzah cantik memulai pengajian itu. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Anak-anak yang berada di pengajian itu dengan kompak mwenjawab salamnya. “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”

“Anak-anakku sekalian, perkenalkan nama ustadzah, Ustadzah Aisyah. Kalian bisa memanggil ustadzah dengan sebutan Kakak Ustadzah ya,” kata Ustadzah Aisyah memperkenalkan diri. Kemudian, satu persatu Kakak Ustadzah Aisyah bertanya nama masing-masing anak. Ketika tiba giliranku, aku langsung menyebutkan namaku. Setelah semua anak telah menyebutkan namanya, Kakak Ustadzah Aisyah memulai pengajian.

Tema pengajian pada malam hari ini adalah berbakti kepada kedua orang tua. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian. Kakak Ustadzah menjelaskan, jika kita ingin berbakti kepada kedua orang tua, kita harus taati perintahnya. Sebelum kedua orang tua menyuruh, kita mengerjakannya terlebih dahulu. Selama kita masih memiliki orang tua, kita doakanlah mereka dan meminta ridho kepada keduanya.

Kemudian, aku memberanikan diri mengangkat salah satu tanganku untuk bertanya. “Kakak Ustadzah, saya boleh bertanya?” Tanya Keyla. “Silahkan, Keyla!” Kakak Ustadzah Aisyah memepersilakan. “Kakak Ustadzah, apakah kita agar bisa membahagiakan kedua orang tua kita di dunia dan akhirat?” Tanya Keyla. “Bagus sekali pertanyaan dari Keyla. Kalau kalian ingin membahagiakan kedua orang tua kalian, kalian harus memiki semangat untuk menjadi Penghafal Quran yang taat. Taat kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan taat kepada kedua orang tua. Apakah kalian tahu, ganjaran bagi para penghafal Quran di surga kelak? Mereka akan memakaikan sebuah mahkota surga beserta jubahnya kepada kedua orang tua mereka. Selain itu, doa para Penghafal Quran itu adalah doa yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Asalkan kalian harus istiqamah menjalaninya. Insya Allah, kalian semua adalah calon para Penghafal Quran. Aamiin Ya Rabbal Alamin.” Jelas Kakak Ustadzah Aisyah panjang lebar. “Jadi, apakah Keyla sudah paham?” Tanya Kakak Ustadzah Aisyah kemudian. “Alhamdulillah, paham Kakak Ustadzah,” jawabku sambil tersenyum.

Setelah pengajian selesai, aku pulang bersama Syela dan Kakak Ustadzah Aisyah. Dalam perjalanan pulang, aku berkata pada Kakak Ustadzah Aisyah bahwa aku ingin belajar menghafal Al Quran. Kakak Ustadzah Aisyah sangat senang sekali mendengarnya. Kakak Ustadzah bilang, jika aku ingin belajar menghafal Al Quran dengannya, setiap selesai pengajian aku boleh menyetorkan hafalan kepadanya. Syela pun ingin ikut belajar Al Quran bersamaku. Aku senang bisa menghafal Al Quran bersama-sama dengan sahabatku.

Lalu, tiba-tiba saja, mendadak penyakitku kambuh. Aku merasa sangat pusing dan langsung tak sadarkan diri. Kakak Ustadzah dan Syela segera mencari pertolongan warga yang berada di sekitar lingkungan itu. Aku pun dibawa ke rumah.

Sampai di rumah, Bi Darmi sangat panik melihat kondisiku yang tidak sadarkan diri. Lalu, Bi Darmi segera meminta suaminya, Pak Amin untuk memanaskan mobil. Kang Cecep, anak Bi Darmi dan Pak Amin segera mengangkatku ke dalam mobil. Syela berkata pada Bi Darmi bahwa ia akan menyusul ke rumah sakit bersama kedua orang tuanya. Mereka bergegas menuju rumah sakit dengan mobil yang dikendarai Pak Amin. Bi Darmi meminta Kang Cecep untuk mengabari kedua orang tua Keyla. Kang Cecep pun dengan sigap langsung melaksanakan perintah.

Tak lama, setelah aku dilarikan ke rumah sakit, aku segera mendapat penanganan dokter. Dan kondisiku sedang kritis. Selang beberapa menit, kedua orang tuaku datang. Mereka mentapku dari kaca jendela kamar dengan wajah sedih dan sangat menyesal. Karena tak sempat mendengarkan perkataanku saat sarapan tadi pagi. (Bersambung)

Karya Amirah Hisanah Rosyanna Putri Nugroho

ig@amirahhisanah

Ini adalah sebuah cerita yang kutulis untuk mengungkapkan rasa kebahagiaanku. Ada sebuah hikmah yang kudapat dari cerita yang kutulis ini. Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran yang amat berharga bagi para pembacanya.

Kala itu, aku adalah seorang gadis kelas tiga yang bersekolah di sebuah sekolah elite. Aku mempunyai seorang sahabat. Namanya Syela. Ia telah bersahabat denganku sejak kelas satu. Bersama Syela di sekolah, membuat rasa sedih yang kubawa dari rumah berubah menjadi rasa bahagia.

Istirahat siang ini, aku duduk di salah satu meja kantin sambil menunggu Syela datang membawakan makanan. Tak berapa lama, terdengar suara Syela memanggilku dari jarak dekat. “Keyla,” panggilnya. Aku menengokk ke arahnya. Dan, dengan sengaja, Syela menempelkan secolek es krim ke hidungku. Melihat hidungku yang terkena noda es krim, ia tertawa. Karena aku menyadarinya, aku pun ikut tertawa. Syela lalu membersihkan hidungku dengan tisu.

Meskipun kami suka melakukan tindakan konyol kepada sahabat, tapi kami tetap memiliki rasa tanggung jawab. Setelah itu, aku dan Syela menikmati es krim itu bersama-sama sambil bersenda gurau. Tepat ketika es krim kami habis, aku dan Syela berjalan menuju ruang kelas bersama-sama.

Ketika pulang sekolah, Pak Amin, sopir keluargaku sudah menunggguku di tempat parkir. Sebelum menghampiri Pak Amin, aku pamit puilang kepada Syela. “Syela, aku pulang dulu ya,” pamitku. “Iya, hati-hati, ya, Sampai ketemu besok!” jawabnya sambil melambaikan tangan. Aku membalas lambaiannya.

Lalu, aku menghampiri dimana tempat Pak Amin berada. “Pak Amin,” sapaku. “Eh, Non Keyla. Silahkan masuk, Non!” ujar Pak Amin sedikit terkejut. Beliau membukakan pintu mobil untukku. “Terima kasih Pak Amin,” ucapku. Pak Amin mengangguk. Setelah itu, Pak Amin menyalakan mesin mobilnya dan membawaku pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan, aku melihat kiri-kanan jalan. Pohon-pohon yang rindang berjejer di sepanjang jalan. Aku berharap, ketika sampai di rumah nanti, Mami atau Papi sudah pulang dari luar kota.

Tak terasa, mobil berhenti di halaman depan rumah mewah. Sebelum aku turun dari mobil, seseorang telah membukakan pintu mobilnya terlebih dahulu. Kang Cecep, tukang kebun di rumahku yang membukakan pintunya. Ia lalu berteriak memanggil  ibunya, Bi Darmi. “Ibu, Non Keyla sudah pulang!” teriaknya. Bi Darmi keluar dari rumah sambil membawa sapu. Tampaknya, ia sedang membersihkan rumah. “Non Keyla sudah pulang, sini Bibi bawakan tasnya,” tawar Bi Darmi. “Ngggak perlu Bi, Keyla masih bisa membawanya sendiri. “Oh ya sudah kalau begitu. Makan siangnya sudah Bibi siapkan di meja makan ya Non, setelah ganti baju, Non Keyla bisa makan siang,” kata Bi Darmi. “Iya Bi. Terima kasih ya, Bi Darmi,” ucapku tersenyum. “Iya Non,” Bi Darmi menganggukl sambil membalas senyumnya. Kemudian, aku masuk ke dalam rumah menuju kamarku yang berada di lantai dua.

Selepas berganti pakaian, aku duduk di sebuah meja makan yang besar dan sunyi. Dan hal itu membuat pikiranku teringat pada Mami dan Papi. Mami dan Papi bekerja sebagai pengusaha. Setiap bulan, Mami dan Papi harus keluar kota untuk melhat perkembangan usaha mereka di sana. Aku pun tidak pernah merasakan suasana bersama keluarga seperti yang dialami oleh teman-temanku.

Saat duduk di meja makan, seketika nafsu makanku berkurang. Aku hanya memainkan makanan yang ada di atas piring sambil melamun. Aku merasa sedih bila melihat dua kursi kosong yang berada di depanku. Mami dan Papi terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga tidak pernah mempunyai waktu luang bersama putri semata wayangnya.

Bi Darmi yang sedang menyapu ruang tengah itu, melihat perubahan ekspresi dari wajahku. Ia segera menghentikan pekerjaannya. Beliau bergegas menghampiriku. “Non Keyla,” panggil Bi Darmi. “Eh, Bi Darmi,” aku sedikit terkejut mendengar Bi Darmi memanggilku. “Non Keyla teringat sama Mami dan Papi ya?” tanya Bi Darmi. Aku hanya menganggguk lemah. Bi Darmi lalu mengelus pundakku, simpatik.

Kemudian, ia berbicara padaku, berusaha untuk menyemangatiku. “Sabar ya Non, Bibi tahu, sejak kecil Non Keyla memang tidak pernah berkumpul dengan Mami dan Papi Non Keyla. Sejak kecil, Non Keyla berada di dalam asuhan Bibi. Tapi, Bibi yakin ada sebuah keajaiban yang dapat membuat Non Keyla bisa berkumpul bersama Mami dan Papi. Dan dibalik sebuah peristiwa pasti ada sebuah hikmah yang dapat menjadi sebuah pelajaran berharga.” Bi Darmi tersenyum, kemudian melanjutkan ucapannya. “Mami dan Papi bekerja untuk memenuhi kebutuhan Non Keyla juga. Membayar uang sekolah, memberikan makanan untuk Non Keyla. Jadi, Non Keyla jangan berpikir Mami dan Papi terlalu sibuk sehingga lupa dengan putrinya. Justru, Mami dan Papi bekerja itu, karena selalu ingat kepada Non Keyla. Dan, buktikan kepada Mami dan Papi bahwa Non Keyla bisa sukses walaupun kedua orang tua Non Keyla itu sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.  Bibi juga sudah anggap Non Keyla itu seperti anak Bibi sendiri,” lanjut Bi Darmi sambil tersenyum padaku. Aku pun langsung memeluk Bi Darmi terharu. “Terima kasih ya Bi, sudah menganggap Keyla seperti anak Bibi sendiri,” ucapku dalam pelukan. “Iya Non, sama-sama,” balas Bi Darmi.

Lalu, tiba-tiba, aku merasakan kepalaku sangat pusing. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dan, dalam sekejap aku langsung pingsan.  Bi Darmi sangat terkejut. Lalu, ia cepat-cepat menyuruh suami dan anaknya, Pak Amin dan Kang Cecep memanaskan mobil. Setelah itu, Bi Darmi bersama anak dan suaminya segera membawaku ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera mendapat pertolongan dokter. Sementara Bi Darmi menghubungi Mami dan Papi yang sedang berada di luar kota. Mami dan Papi sangat syok mendengar kabar itu. Dan mereka bergegas mencari tiket pesawat untuk pulang. Setelah Bi Darmi menghubungi Mami dan Papi, terdengar bunyi derit telepon dari ponselku. Bi Darmi melihat ke layar ponsel. Ternyata yang menelepon adalah Syela. Bi Darmi mengangkat teleponnya.

“Halo, Keyla,” ucap Syela di telepon. “Halo Non Syela,” jawab Bi Darmi. “Bi, apakah ada Keyla?” tanya Syela. “Maaf Non, Non Keyla masuk rumah sakit. “ jawab Bi Darmi seolah tak mampu untuk berkata. “Ya sudah, Bibi kirimkan alamat rumah sakitnya. Nanti Syela menyusul Bibi ke sana,” kata Syela dengan nada panik. Bi Darmi segera menutup telponnya.

Setelah beberapa saat, Bi Darmi dipersilakan untuk menemui dokter di ruangannya. Dan dokter menjelaskan bahwa aku terdiagnosa menderita leukimia. Tak lama, Syela tiba di rumah sakit ditemani seorang sopir. Ia mengahampiri Bi Darmi dengan terburu-buru. “Bagaimana Bi, hasil pemeriksaannya?’” tanya Syela dengan perasaan campur aduk. “Non Keyla tekena penyakit leukimia,” jawab Bi Darmi singkat. Wajahnya terlihat lemas.

Di waktu yang bersamaan, kedua orang tuaku datang dengan wajah takut sekaligus panik. “Bagaimana Bi, hasil pemeriksaan dokter?” tanya Mami. “Non Keyla terkena penyakit Leukimia Bu,” jawab Bi Darmi menahan tangisnya. Mami dan Papi terlihat merasa bersalah. “Ya Allah,” ucap Mami meneteskan air mata. Begitu juga dengan Papi.

Selama di rumah sakit, Mami dan Papi menunggu di samping ranjang tidurku hingga aku sadar. “Keyla, bangun dong sayang, Mami sama Papi sudah ada di sini untuk menemani kamu,” kata Mami di hadapanku yang tengah terbaring lemah. Kemudian, tiba-tiba tubuhku sedikit bergerak dan mulutku hanya mengucapkan dua kata. “Mami, Papi,” ucapku lemah. Mami dan Papi sedikit senang melihatku sudah siuman. “Iya sayang, Mami sama Papi disini. Keyla cepat sembuh ya sayang, Mami sama Papi janji, akan lebih banyak waktu lagi bersama Keyla.” Ujar Mami. Ketika mendengar perkataan Mami itu, aku merasa sangat senang. Dan ternyata, ucapan Bi Darmi beberapa waktu lalu benar. Bi Darmi pernah bilang bahwa suata hari nanti, Mami dan Papi akan mengerti dan dibalik sebuah peristiwa pasti ada hikmahnya.

Ketika aku sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit, dokter berpesan agar aku tidak terlalu kecapekan. Karena jika aku lelah, penyakitnya bisa kambuh. Satu hal yang membuatku merasa senang ketika keluar dari rumah sakit, Mami dan Papi mengajakku berlibur. Aku pun tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan rasa senangku di hari itu. Aku merasa sangat bahagia, karena impian yang selama ini kudambakan, akhirnya dapat terbayar sudah.

 

Cerpen Karya “Amirah Hinasah Rosyanna”
  • Selasa, 29 September 2020
  • 7:00 am - 6:00 pm

OM ROHOT TETANGGA BARU YANG BAIK

Karya Amirah Hisanah Rosyanna Putri Nugroho

Belum lama, di kompleks perumahan Syera, ada tetangga baru bernama Om Rohot. Om Rohot itu pindahan dari Medan. Jadi, logat bicaranya terdengar seperti sedang marah, tetapi sebenarnya tidak. Syera merasa kasihan pada Om Rohot karena seringkali menjadi perbincangan anak-anak komplek.

Di sore yang cerah, Syera bermain bersama Lilis, Gendis, Ayu, Iis, dan Eka. Mereka sedang bermain congklak di pondok bermain. Syera berpasangan dengan Gendis, Lilis dengan Iis, dan Ayu berpasangan dengan Eka. Mereka lalu mencari tempat yang nyaman..

Kemudian, Gendis memulai perbincangan dangan logat Jawanya. “tahu enggak, kemarin aku lihat Om Rohot memanggil Dwi sambil marah-marah. Manggilnya seperti ini, Dwii! Dwiii! seperti itu,” Cerita Gendis. Namun, teman-temannya yang berada di pondok menertawakannya karena logatnya yang meniru logat bicara Om Rohot. “Haaa haaa haaa. Gendis, Gendis,” teman-temannya tertawa sambil geleng-geleng kepala.“Iiih, aku lagi cerita, kok kalian malah tertawa, sebel deh,” kata Gendis memasang wajah cemberut.

“Kamu lucu sekali meniru gaya Om Rohot,” kata Lilis. “Iiih Lilis, aku kan, cuma cerita yang kemarin aku dengar. Iiiih, sebel, deh,” gerutu Gendis. “Iya, iya, maaf,” ujar Lilis merasa bersalah, tapi masih tertawa. Teman-temannya hanya bisa tertawa kecil atau tersenyum-senyum. Karena takut Gendis marah. Jika Gendis marah, terkadang teman-temannya tertawa karena wajah tembamnya dan gaya bicaranya yang lucu.

“Terus, bagaimana lagi ceritanya, Ndis?“ tanya Eka. Gendis yang semula cemberut, seketika menjadi malu. “Eh, aku enggak tau lagi. Soalnya setelah itu aku lanjut jalan lagi karena disuruh ibu ke warung Ucok,” jawab Gendis. “Yah, gimana sih, Ndis. Kita sudah mulai penasaran, kamu malah enggak tau. Ah, enggak seru nih, Gendis!” ujar Eka. “Ya maaf, kan aku enggak tau lagi. Kata Pak Haji Harun, perintah orangtua harus lebih diutamakan kan.” kata Gendis membela diri. “Gendis, Gendis,” teman-temannya menggeleng kepala.

Lalu, tiba-tiba Eka pun bercerita. “waktu itu, aku juga pernah lihat, Om Rohot marah-marah karena buah mangga yang ia tanam dicuri orang. Tapi masih belum tahu siapa pelakunya,” cerita Eka. “Tapi kamu tahu kelanjutan ceritanya kan, Ka?” tanya Lilis. “Ya tahu lah,” jawab Eka. “Oh, aku kira kamu nanti seperti Gendis. Hanya tahu awalnya, tapi waktu kejadiannya malah enggak tau,” sindir Lilis sambil melirik ke arah Gendis. Gendis yang merasa disindir tersenyum malu. “Setelah itu, bagaimana Ka?” tanya Iis penasaran. “Lalu, aku datangi Om Rohot dan bertanya. Katanya, sudah seminggu ini, mangganya dicuri tapi belum tahu pelakunya. Aku menawarkan diri untuk mencari tahu pelakunya. Dan Om Rohot malah membentak aku. Terus aku tinggal orangnya karena kesal. Tapi, aku masih ingin tahu pelaku yang sesungguhnya,” jelas Eka panjang lebar. Syera, Lilis, Ayu, dan Gendis mendengarkan cerita Eka dengan penuh perhatian..

Ketika Syera berjalan pulang, ia melewati rumah Om Rohot. Rupanya, Om Rohot sedang  menyapu halaman rumah. Tanpa rasa takut, Syera menyapa Om Rohot dengan ramah. “Permisi, Om Rohot,” sapa Syera. “Oh rupanya kau Syera. Silahkan!” balas Om Rohot sama ramahnya. Namun, perbedaannya Om Rohot suaranya sangat keras. Karena itu teman-teman Syera mengira Om Rohot seperti marah-marah dan membentak mereka.

“Ibu, Syera pulang!” kata Syera selepas membuka pintu rumahnya. Tak sampai sepuluh detik, tampak Ibu keluar dari dapur. “Syera, kamu sudah pulang?” tanya Ibu. “Sudah, Bu,” jawab Syera. “Ya sudah, bantu Ibu yuk, menyiapkan makan malam,” ajak Ibu. ”Iya Bu,” angguk Syera.

Kemudian, Syera dan Ibu beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malam. “Ibu, tadi waktu Syera main di pondok, teman-teman Syera  membicarakan Om Rohot,” cerita Syera pada ibunya. “Oh ya, membicarakan apa?” tanya Ibu penasaran. “Teman-teman Syera bilang, Om Rohot itu suka marah-marah terus.” Jawab Syera “Nah, sekarang Ibu yang bertanya. Ketika bermain tadi, Syera menegur teman-teman tidak, sewaktu mereka membicarakan Om Rohot?” tanya Ibu lembut. “Tidak Bu,” jawab Syera. Ibu yang sedang memasak mengecilkan api kompor. Lalu berkata, “Syera sayang, kalau ada teman yang sedang membicarakan seseorang tidak sesuai dengan kebenarannya, kita wajib menegur. Apalagi sampai menjadikannya bahan perbincangan. Syera kan, tahu kalau sebenarnya Om Rohot itu baik, Syera jelaskan pada teman- teman bahwa Om Rohot, bukan seperti yang mereka kira,” jelas Ibu. “Tapi, Bu….” Sanggahnya. Ia bingung harus berbicara apa. “Syera, dalam bertetangga itu, pasti ada perbedaan. Jika kita mengerti perbedaan itu maka kita harus menghargainya. Karena dengan menghargai perbedaan akan tercipta kerukunan dan keharmonisan,” ucap Ibu sabar.

Esoknya, ketika di sekolah, teman-teman Syera kembali memperbincangkan Om Rohot. Syera menegur mereka. “Teman-teman, kita tidak boleh membicarakannya seperti itu. Kata Ibuku, dalam bertetangga itu, pasti ada saja perbedaan. Kita harus menghargainya agar tercipta kerukunan dan keharmonisan. Dan apakah kalian tahu, Om Rohot itu sebenarnya tetangga yang baik. Hanya logat bicaranya saja yang berbeda dengan kita,” Mereka hanya mengangguk-angguk.

Dalam perjalanan pulang, sebenarnya ada niat teman-teman Syera untuk minta maaf pada Om Rohot. Tetapi, mereka malu untuk mengucapkannya. Mereka takut Om Rohot marah. “Syera, kamu mau tidak, menemani kami meminta maaf pada Om Rohot?” tanya Eka mewakili teman-teman yang lain. Teman-teman Syera menatap dengan wajah penuh mohon. “Oh, boleh, boleh, aku mau,” jawab Syera. Ada nada senang dari ucapannya.                                                      Saat tiba di depan rumah Om Rohot, Syera menyapanya. “Hai, Om Rohot!” sapa Syera. Om Rohot tampaknya sedang mengupas buah mangga. “Oh, hai Syera,” balas Om Rohot ramah pula. Terlihat teman-teman Syera menunduk. “Om Rohot, ada yang mau teman-teman Syera sampaikan,” kata Syera.

Lalu, Lilis mulai berbicara. “Ehmmm….Om Rohot maafkan kami ya, karena kami pernah membicarakan Om Rohot sebab logat bicara Om Rohot. Tapi sekarang kami tahu, setiap bertetangga pasti ada perbedaan dan seharusnya kami menghargainya. Sekali lagi maafkan kami ya, Om Rohot,” ungkap Lilis dengan menunduk. Om Rohot kemudian, berkata kepada mereka sambil tersenyum. “Oh tak apa, aku paham sekali. Logat bicaraku memang sedikit berbeda dari kalian. Aku sudah memaafkan kalian. Lain waktu, jangan kalian ulangi kembali ya,” kata Om Rohot. Mereka sangat lega dan mulai tersenyum. “Yuk, ku buatkan jus mangga. Aku baru saja panen mangga” ajak Om Rohot. Akhirnya mereka minum jus buah mangga hasil panen Om Rohot. Rasanya segaaar sekali.

Ternyata benar ucapan Syera bahwa Om Rohot adalah tetangga yang baik. Ia tidak hanya memaafkan kesalahan mereka, tetapi juga membuatkan mereka jus mangga yang segar. Kini, mereka sadar, bahwa setiap perbedaan jika mereka menghargainya, akan tercipta sebuah kerukunan dan keharmonisan.