Event Details

01/09/2018

10 AM to 04 PM

“Cerita Seorang Gadis”

Karya Amirah Hisanah Rosyanna Putri Nugroho

ig@amirahhisanah

Ini adalah sebuah cerita yang kutulis untuk mengungkapkan rasa kebahagiaanku. Ada sebuah hikmah yang kudapat dari cerita yang kutulis ini. Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran yang amat berharga bagi para pembacanya.

Kala itu, aku adalah seorang gadis kelas tiga yang bersekolah di sebuah sekolah elite. Aku mempunyai seorang sahabat. Namanya Syela. Ia telah bersahabat denganku sejak kelas satu. Bersama Syela di sekolah, membuat rasa sedih yang kubawa dari rumah berubah menjadi rasa bahagia.

Istirahat siang ini, aku duduk di salah satu meja kantin sambil menunggu Syela datang membawakan makanan. Tak berapa lama, terdengar suara Syela memanggilku dari jarak dekat. “Keyla,” panggilnya. Aku menengokk ke arahnya. Dan, dengan sengaja, Syela menempelkan secolek es krim ke hidungku. Melihat hidungku yang terkena noda es krim, ia tertawa. Karena aku menyadarinya, aku pun ikut tertawa. Syela lalu membersihkan hidungku dengan tisu.

Meskipun kami suka melakukan tindakan konyol kepada sahabat, tapi kami tetap memiliki rasa tanggung jawab. Setelah itu, aku dan Syela menikmati es krim itu bersama-sama sambil bersenda gurau. Tepat ketika es krim kami habis, aku dan Syela berjalan menuju ruang kelas bersama-sama.

Ketika pulang sekolah, Pak Amin, sopir keluargaku sudah menunggguku di tempat parkir. Sebelum menghampiri Pak Amin, aku pamit puilang kepada Syela. “Syela, aku pulang dulu ya,” pamitku. “Iya, hati-hati, ya, Sampai ketemu besok!” jawabnya sambil melambaikan tangan. Aku membalas lambaiannya.

Lalu, aku menghampiri dimana tempat Pak Amin berada. “Pak Amin,” sapaku. “Eh, Non Keyla. Silahkan masuk, Non!” ujar Pak Amin sedikit terkejut. Beliau membukakan pintu mobil untukku. “Terima kasih Pak Amin,” ucapku. Pak Amin mengangguk. Setelah itu, Pak Amin menyalakan mesin mobilnya dan membawaku pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan, aku melihat kiri-kanan jalan. Pohon-pohon yang rindang berjejer di sepanjang jalan. Aku berharap, ketika sampai di rumah nanti, Mami atau Papi sudah pulang dari luar kota.

Tak terasa, mobil berhenti di halaman depan rumah mewah. Sebelum aku turun dari mobil, seseorang telah membukakan pintu mobilnya terlebih dahulu. Kang Cecep, tukang kebun di rumahku yang membukakan pintunya. Ia lalu berteriak memanggil  ibunya, Bi Darmi. “Ibu, Non Keyla sudah pulang!” teriaknya. Bi Darmi keluar dari rumah sambil membawa sapu. Tampaknya, ia sedang membersihkan rumah. “Non Keyla sudah pulang, sini Bibi bawakan tasnya,” tawar Bi Darmi. “Ngggak perlu Bi, Keyla masih bisa membawanya sendiri. “Oh ya sudah kalau begitu. Makan siangnya sudah Bibi siapkan di meja makan ya Non, setelah ganti baju, Non Keyla bisa makan siang,” kata Bi Darmi. “Iya Bi. Terima kasih ya, Bi Darmi,” ucapku tersenyum. “Iya Non,” Bi Darmi menganggukl sambil membalas senyumnya. Kemudian, aku masuk ke dalam rumah menuju kamarku yang berada di lantai dua.

Selepas berganti pakaian, aku duduk di sebuah meja makan yang besar dan sunyi. Dan hal itu membuat pikiranku teringat pada Mami dan Papi. Mami dan Papi bekerja sebagai pengusaha. Setiap bulan, Mami dan Papi harus keluar kota untuk melhat perkembangan usaha mereka di sana. Aku pun tidak pernah merasakan suasana bersama keluarga seperti yang dialami oleh teman-temanku.

Saat duduk di meja makan, seketika nafsu makanku berkurang. Aku hanya memainkan makanan yang ada di atas piring sambil melamun. Aku merasa sedih bila melihat dua kursi kosong yang berada di depanku. Mami dan Papi terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga tidak pernah mempunyai waktu luang bersama putri semata wayangnya.

Bi Darmi yang sedang menyapu ruang tengah itu, melihat perubahan ekspresi dari wajahku. Ia segera menghentikan pekerjaannya. Beliau bergegas menghampiriku. “Non Keyla,” panggil Bi Darmi. “Eh, Bi Darmi,” aku sedikit terkejut mendengar Bi Darmi memanggilku. “Non Keyla teringat sama Mami dan Papi ya?” tanya Bi Darmi. Aku hanya menganggguk lemah. Bi Darmi lalu mengelus pundakku, simpatik.

Kemudian, ia berbicara padaku, berusaha untuk menyemangatiku. “Sabar ya Non, Bibi tahu, sejak kecil Non Keyla memang tidak pernah berkumpul dengan Mami dan Papi Non Keyla. Sejak kecil, Non Keyla berada di dalam asuhan Bibi. Tapi, Bibi yakin ada sebuah keajaiban yang dapat membuat Non Keyla bisa berkumpul bersama Mami dan Papi. Dan dibalik sebuah peristiwa pasti ada sebuah hikmah yang dapat menjadi sebuah pelajaran berharga.” Bi Darmi tersenyum, kemudian melanjutkan ucapannya. “Mami dan Papi bekerja untuk memenuhi kebutuhan Non Keyla juga. Membayar uang sekolah, memberikan makanan untuk Non Keyla. Jadi, Non Keyla jangan berpikir Mami dan Papi terlalu sibuk sehingga lupa dengan putrinya. Justru, Mami dan Papi bekerja itu, karena selalu ingat kepada Non Keyla. Dan, buktikan kepada Mami dan Papi bahwa Non Keyla bisa sukses walaupun kedua orang tua Non Keyla itu sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.  Bibi juga sudah anggap Non Keyla itu seperti anak Bibi sendiri,” lanjut Bi Darmi sambil tersenyum padaku. Aku pun langsung memeluk Bi Darmi terharu. “Terima kasih ya Bi, sudah menganggap Keyla seperti anak Bibi sendiri,” ucapku dalam pelukan. “Iya Non, sama-sama,” balas Bi Darmi.

Lalu, tiba-tiba, aku merasakan kepalaku sangat pusing. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dan, dalam sekejap aku langsung pingsan.  Bi Darmi sangat terkejut. Lalu, ia cepat-cepat menyuruh suami dan anaknya, Pak Amin dan Kang Cecep memanaskan mobil. Setelah itu, Bi Darmi bersama anak dan suaminya segera membawaku ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera mendapat pertolongan dokter. Sementara Bi Darmi menghubungi Mami dan Papi yang sedang berada di luar kota. Mami dan Papi sangat syok mendengar kabar itu. Dan mereka bergegas mencari tiket pesawat untuk pulang. Setelah Bi Darmi menghubungi Mami dan Papi, terdengar bunyi derit telepon dari ponselku. Bi Darmi melihat ke layar ponsel. Ternyata yang menelepon adalah Syela. Bi Darmi mengangkat teleponnya.

“Halo, Keyla,” ucap Syela di telepon. “Halo Non Syela,” jawab Bi Darmi. “Bi, apakah ada Keyla?” tanya Syela. “Maaf Non, Non Keyla masuk rumah sakit. “ jawab Bi Darmi seolah tak mampu untuk berkata. “Ya sudah, Bibi kirimkan alamat rumah sakitnya. Nanti Syela menyusul Bibi ke sana,” kata Syela dengan nada panik. Bi Darmi segera menutup telponnya.

Setelah beberapa saat, Bi Darmi dipersilakan untuk menemui dokter di ruangannya. Dan dokter menjelaskan bahwa aku terdiagnosa menderita leukimia. Tak lama, Syela tiba di rumah sakit ditemani seorang sopir. Ia mengahampiri Bi Darmi dengan terburu-buru. “Bagaimana Bi, hasil pemeriksaannya?’” tanya Syela dengan perasaan campur aduk. “Non Keyla tekena penyakit leukimia,” jawab Bi Darmi singkat. Wajahnya terlihat lemas.

Di waktu yang bersamaan, kedua orang tuaku datang dengan wajah takut sekaligus panik. “Bagaimana Bi, hasil pemeriksaan dokter?” tanya Mami. “Non Keyla terkena penyakit Leukimia Bu,” jawab Bi Darmi menahan tangisnya. Mami dan Papi terlihat merasa bersalah. “Ya Allah,” ucap Mami meneteskan air mata. Begitu juga dengan Papi.

Selama di rumah sakit, Mami dan Papi menunggu di samping ranjang tidurku hingga aku sadar. “Keyla, bangun dong sayang, Mami sama Papi sudah ada di sini untuk menemani kamu,” kata Mami di hadapanku yang tengah terbaring lemah. Kemudian, tiba-tiba tubuhku sedikit bergerak dan mulutku hanya mengucapkan dua kata. “Mami, Papi,” ucapku lemah. Mami dan Papi sedikit senang melihatku sudah siuman. “Iya sayang, Mami sama Papi disini. Keyla cepat sembuh ya sayang, Mami sama Papi janji, akan lebih banyak waktu lagi bersama Keyla.” Ujar Mami. Ketika mendengar perkataan Mami itu, aku merasa sangat senang. Dan ternyata, ucapan Bi Darmi beberapa waktu lalu benar. Bi Darmi pernah bilang bahwa suata hari nanti, Mami dan Papi akan mengerti dan dibalik sebuah peristiwa pasti ada hikmahnya.

Ketika aku sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit, dokter berpesan agar aku tidak terlalu kecapekan. Karena jika aku lelah, penyakitnya bisa kambuh. Satu hal yang membuatku merasa senang ketika keluar dari rumah sakit, Mami dan Papi mengajakku berlibur. Aku pun tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan rasa senangku di hari itu. Aku merasa sangat bahagia, karena impian yang selama ini kudambakan, akhirnya dapat terbayar sudah.